Surakarta, 30 Januari 2026 – Lebih dari 700 mahasiswa memadati Ruang Seminar Ahmad Syafii Maarif Lantai 8 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS dalam Kuliah Umum bertajuk “Persiapan Menghadapi Dunia Kerja di Era Digital.” Kehadiran Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, Ph.D., menjadikan kuliah umum ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan ruang dialog strategis tentang masa depan tenaga kerja Indonesia.
Dalam paparannya, Prof. Yassierli menegaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi pilihan, melainkan kompetensi kunci future workforce. Permintaan tenaga kerja dengan keterampilan AI meningkat tajam, dan 69 persen pimpinan perusahaan di Indonesia menyatakan tidak akan merekrut kandidat tanpa kemampuan tersebut.
“AI kini menjadi skill penting untuk masa depan tenaga kerja. Permintaannya terus meningkat, dan perusahaan mulai selektif,” tegasnya.
Ia membagi kompetensi AI ke dalam empat level: basic user, practitioner, developer, hingga architect. Mahasiswa didorong untuk tidak berhenti sebagai pengguna pasif, tetapi naik kelas menjadi pengembang dan perancang sistem yang mampu mengintegrasikan AI dalam organisasi.

Dunia Kerja Berubah Lebih Cepat dari yang Kita Bayangkan
Yassierli memaparkan realitas global yang tengah menggeser lanskap ketenagakerjaan. Tiga pendorong utama yaitu disrupsi AI dan digitalisasi, transisi hijau dan keberlanjutan, serta perubahan demografi, mengubah struktur pekerjaan secara fundamental.
Data menunjukkan, 170 juta pekerjaan baru diperkirakan muncul hingga 2030, sementara 92 juta pekerjaan lama berpotensi hilang akibat otomatisasi. Bahkan, menurut data LinkedIn, sekitar 80 persen pekerjaan yang kini tumbuh belum ada pada dua dekade lalu.
“Dunia kerja terus berubah. Sekarang zamannya skills, not schools. Yang dilihat adalah apa yang bisa Anda kerjakan,” ujarnya.
Beliau menyoroti pertumbuhan ekonomi digital dan kreatif, ekonomi hijau dan sirkular, serta ekonomi berbasis layanan dan kemanusiaan sebagai sektor masa depan. Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu pemain terbesar di kawasan dalam sektor e-commerce.
Pertanyaan Kritis: Bagaimana dengan 19 Juta Lapangan Kerja?
Momen menarik terjadi ketika seorang mahasiswa mempertanyakan target ambisius pemerintah menciptakan 19 juta lapangan kerja. Menjawab hal tersebut, Yassierli menjelaskan lima sumber utama penciptaan kerja nasional: program prioritas presiden (swasembada pangan dan energi), pertumbuhan industri, peningkatan produktivitas tenaga kerja, penguatan ekosistem kewirausahaan, serta akses kerja global.
Menurutnya, transformasi ketenagakerjaan tidak bisa instan. “Indonesia ini negara besar. Semua butuh proses dan kesiapan sumber daya manusia,” katanya.
M-Shaped Engineer dan Growth Mindset
Khusus bagi mahasiswa teknik, Prof. Yassierli memperkenalkan konsep M-Shaped Competency, yakni kompetensi mendalam pada lebih dari satu bidang dengan wawasan lintas disiplin yang luas. Model ini dinilai relevan untuk menghadapi kompleksitas industri modern.
Namun, Beliau menegaskan bahwa digital skill harus berjalan beriringan dengan human skill. Pada 2030, delapan dari sebelas keterampilan inti yang dibutuhkan dunia kerja adalah kemampuan manusiawi: analytical thinking, resilience, flexibility, empathy, leadership, dan social influence.
Menutup paparannya, ia mengajak mahasiswa meninggalkan fixed mindset dan beralih pada growth mindset.
“Kita harus menjadi unique, different, and champion. Growth mindset adalah kunci agar mampu bertahan dan menciptakan peluang di tengah perubahan.”
Kuliah umum ini menjadi ruang bagi UMS dalam menyiapkan lulusan yang adaptif, kompeten, dan siap bersaing secara global. Di tengah gelombang transformasi digital, pesan yang tertinggal jelas yaitu
Masa depan bukan milik mereka yang menunggu perubahan, tetapi milik mereka yang mempersiapkan diri untuk memimpinnya.
cs153

